paper tears.

ini ditulis buat seorang teman yang udah back for good ke indo. seorang teman, yang untuknya saya merasa perlu untuk menulis sebuah kisah, entah singkat atau agak panjang kita liat aja ntar. pokoknya nulis, karena kadang menulis itu artinya mengingat dan mengabadikan suatu kisah bukan cuma seperti yg saya ingat, tapi juga sebagaimana saya pengen mengingatnya.

call me a friend… and know that i am, and just try to think of the good times

that was the line of shelter belt’s lyrics in one of their songs. so thats what i’m gonna do now.

good times with meta?
rather hard not to have many.
saat2 kita masih tinggal bersebrangan blok di nolle, sore-sore yg spontan ketemu barang setengah jam menikmati segelas latte hangat di impala, obrolan-obrolan mulai dari uni sampai film, bahasa sampai penyangkalan diri meta bahwa dia adalah seorang vegetarian yg belum coming out. meta bisa ngobrol tentang apa aja, “meta pinter!” kata saya ratusan kali mungkin ada. semuanya good times.
saat2 saya kehabisan telur, dan meta muncul di pintu apartemen cuma buat nganterin telur (yep! i do remember that!). saat2 saya belajar mati2an dan meta muncul bawain peanut butter cookies. sejak itu cookies are supposed to be peanut butter cookies to me.
one thing about meta, i always know that she always feels comfortable being near me (tell me if i’m wrong met, promise i won’t be mad uhahaha), and that comforts me.

kita punya tempat janjian yang tidak spesial, di depan toko militer dgn manekinnya yg aneh itu tepat di Ecke (sudut jalan) dan hampir selalu berpisah di tempat yang sama atau tepat sebelum toko barang antik. saya yg pertama kali memperkenalkan dia sama novel Twilight, sama2 menggemarinya, getol bacain buku2 kelanjutannya, dan sama2 mencemooh Twilight sehabis menonton filmnya (honestly, some books just need to stay as books). cuma bedanya, dia lebih konsisten baca novel, sedangkan saya bisa berhenti begitu aja ketika baca new moon baru 1/4.

30 Agustus 2010.
meta pulang for good ke indo, dan waktu itu (untungnya) saya lagi ada di indo.

2 September 2010.
kita janjian ketemu di sebuah mall di kawasan jakarta barat buat makan joghurt yang kondang itu dan saya bersikeras mau nyobain ngafe di cafe di mana aja selain di cafe yg pernah runtuh atapnya padahal di dalam mall (WTH?)
ketika saya lagi mau buka bungkus sweetener berinitial T, meta bilang “hmm, itu kan mengandung aspartame”. “oh?” saya bilang dgn cueknya, dan tepat ketika bungkusnya saya robek, meta menyambung “dan itu yg bisa nyebabin kanker” -_- lalu saya gak jadi masukin gerombolan aspartame itu ke cangkir teh saya (ya, akhirnya malah ngeteh dan bukan ngopi). gantian saya ambil gula pasir biasa, berpikir kalau itu akan lebih aman buat kesehatan. dan tepat ketika saya robek bungkusnya, meta berkomentar lagi “dan itu yg nyebabin diabetes” -_-
lalu saya bilang, “jadi hidup itu cuma antara 2 pilihan, kanker atau diabetes ya?” lalu kita berdua ketawa. ketawa yg menurut saya ironis, ditutup dengan potongan kalimat yg familiar dari mulut meta, “gimana kabarnya mau ngurangin gula, nit?”. obrolan pun berlanjut ke berbagai arah, tentang rencana ke depan, tentang kenangan2 di belakang, mimpi2 di atas, sampai tentang anak ABG bilingual yg duduk di samping kita.

sore itu pun berlanjut tidak lama dan kita pun berpisah, tapi kali ini bukan di depan toko militer atau barang antik, dan bukan dengan “sampai besok”. meta pergi dengan mamanya, sementara saya jalan sendirian ke tempat parkir, dengan perasaan yg campur aduk. senang, lega, sekaligus sedih. sepanjang perjalanan cuaca mendung, dan begitu sampe rumah, hujan pun turun dengan derasnya.

tn

:D

well, saya percaya hidup ini lebih dari sekedar pilihan antara “sweetener” atau “gula pasir”. lebih daripada memilih antara “kanker” atau “diabetes”. ada yang lebih dari itu, walau kadang terlihat ngga seperti itu. pasti lebih dari cuma sedih karena berpisah medan berjuang. lebih dari sekedar jarak yang jauh. selalu ada yg lebih buat masing2 kita di 2 benua dan situasi yg berbeda. pasti lebih, sama kaya namanya. suatu kali saya pernah bilang ke dia di sela-sela gabbing session kita,

“lo mesti bersyukur krn nama lo bagus, ga kaya nama gue ga ada artinya gini padahal panjang kaya kereta. meta artinya lebih dari sekedar. meta mentari, lebih dari mentari”

3 Thoughts.

  1. gw suka personal feelings. when you lost something. when you can’t get something. anyway, andai gw bisa jadi gelasnya waktu pada ngopi, mengamati perubahan emosi kalian.

  2. I miss baking peanut butter cookies for u.. actually I miss baking anything and giving them to you..
    kapan gue pernah nganterin telor ke rumah lo yah?

  3. cos u know i would eat them all?hahahha..
    ada lah waktu gue masih di nolle, ud mulai masak setengah baru sadar telor abis..then u dropped by :*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>