My Jakarta Story (part 1)

It’s been almost three years since I came back to Jakarta, for good. For someone who is obsessed with cities, with how deeply melancholic Orhan Pamuk writes about Istanbul that he never wants to depart from, it’s kind of odd that I haven’t even once stopped, looked back to those almost three years, and wrote about it.

Now I know why. And it took me quite a while to realise it.

It’s just too scary.

At first I was too scared to admit that this is all real, that here is where I end up in. Back then, thinking of going back and leaving all the people I care about in Berlin used to give me night sweats and anxiety. Thinking about going back was not pleasant, for it was full of uncertainties, doubts and one thing I hate the most, changes. But I had to do it anyway. However, once I landed here on 3 May 2013, I knew that I was not meant to get bored (I was informed that my luggage was still in Abu Dhabi while I had to attend a job interview in 1 hour, at rush hour).

I didn’t even have the time to reflect and evaluate how I’ve lived here. I no longer write. No melancholy. No effort of romanticising nature. No nature in sight to admire. No park bench to sit on to write poems. No ducks swimming in a pond. There are only cars, people, motorbikes, and lots of Alfamart. Before I make it sound so terrible, let me tell you that it’s actually not.

And here I am now, thinking. Hey, this isn’t bad at all. I have, in fact, survived my fears, my what’s-it-gonna-be-like-in-Jakarta. Just last Sunday a friend who is in Berlin asked the most FAQ, “Do you miss Germany?”. In less than three seconds I replied, “Sometimes I do, but not often.”

I even found my next sentence surprising, “It’s more lively here.”

Dear brother

Oh brother I can’t, I can’t get through
I’ve been trying hard to reach you ’cause I don’t know what to do
Oh brother I can’t believe it’s true
I’m so scared about the future and I wanna talk to you
Oh I wanna talk to you.

Been trying to come up with several lines to express how I feel, to no avail. Been thinking of how all the saying is wrong, that blood is thicker than water. Good family relationship isn’t something that exists just like that. You have to work hard and earn it, just like any other relationships. Some last, some just don’t.

Guess I’ve missed him, more than he’d probably ever know, or care.

pride

I’ve always thought that being born into a dysfunctional family is the hardest blow, especially if you care too much.

A mother that is not in the capacity of being one, a father that is weak in will and far from being a protective fatherly figure, mediocre defect yet disastrous elements of parenthood. But I realize, I never chose any of those things and sooner or later I’ll just have to move on. Yes, I never thought that moving on from my own family is even a, if not the cure.

But it’s not. It’s not the hardest blow.

The hardest blow for now is, despised for being who I am, what I am, how I live my life. Despised for being true to myself, being gay, by people I once thought would accept me no matter what. It’s a passive aggressive kind of behaviour: I am being avoided, kept distance from, silently. And boy, it feels – how should I put it – different than any other heart-wrenching emotions I have ever experienced.

Yet I was surprised by what’s left.

I found nothing inside me that resembles hatred to fight back. Instead, I feel so alive. Nothing has ever made me feel so alive than having my own true identity confronted. An identity that has gathered courage for years to finally speak out – no matter what the consequences are – simply because I had to, you know, truly live.

 

A Thank You Note

Berlin, 1 May 2013.Dear Loved Ones,

So I guess this is it, huh?

I can’t help but to look back to the day I first arrived here on Monday, 16 July 2007. It was the hottest day of the year, weather-wise. The journey began in the Summer with warmth and up til tomorrow, there are 5 years 9 months and 16 days spent here.Last time I checked, Berlin is still the largest city in the country, Berlin is currywurst, Berlin is the most vibrant of all German cities, Berlin is the “man” when it comes to local art, Berlin ist wunderbar. Berlin to me, is all of you reading this.

And no, this isn’t a goodbye note. It’s only a thank you note written from the very bottom of my heart.

Thank you Berlin, for preparing a mosaic of family that open their arms wide to welcome this poor soul. Thank you Berlin, for these family-like friends who are extremely different than me, but then I learn that I am welcomed, listened to, prayed for and cared for. Thank you Berlin, for the scenes that I learned to capture each day. A week ago, I thought I would miss this city terribly, but then as time drew nearer and nearer, this city grew smaller and all I can think about is nothing but the people in it. And I can’t help but to yield to this overwhelming feeling of gratitude. So thank you, thank you and thank you.

Thank you for the time we’ve shared and cherished. Thank you for the generous helping hands. Let the journey begin and end as well with warmth. Jokes, laughter, may they all fill your memory of me. And as we meet again someday, we never are strangers.

Yours,

Nita.

On the Hill

You’re blessed when you’re content with just who you are—no more, no less. That’s the moment you find yourselves proud owners of everything that can’t be bought. (Mat. 5:5, The Message)

They’re wrong. Money can buy happiness. What it can’t buy is contentment, and hence the above-mentioned saying. Grab a paper and a pen, jot down things that surround you or what you own. Then get rid of those that money can buy from the list. It turns out that it’s not happiness that I’ve been lacking all this time. It’s not happiness.

Putri malu.

Dialah yang selalu mengantar saya pergi ke TK dekat rumah di bandung. Masih segar di ingatan bunyi kotak bekal yang ada di tas sekolah saya yang selalu dia bawakan. Sesekali di pinggir taman saya suka minta berhenti sejenak untuk jongkok dan menyentuh tanaman putri malu. Dia yang pertama kali kasih tau saya keistimewaan tanaman itu, yang bakal kuncup waktu disentuh. Dulu saya pikir mereka benar-benar malu sehingga kuncup, itu yang buat saya ketagihan menyapa mereka. Rutinitas sederhana yang indah, sehari belum lengkap kalau belum menjenguk putri malu, seakan- akan mereka milik saya. Dan papa selalu sabar menunggu, bahkan kadang ikutan jongkok dan balapan sama saya adu cepat-cepatan.
Saya ingat dia selalu jalan di samping saya, bunyi kotak bekal, putri malu, kadang ice cream campina yang kalau udah asyik makannya, putri malupun lupa saya sapa, seperti orang yang lupa kawan lama.
Belakangan ketika besaran, saya cuma ingat papa selalu jalan di depan, entah langkah kaki dia yang semakin lebar atau saya yang semakin lambat.

Papa suka pelihara binatang. Dia yang pertama kali ngajarin saya cara memandikan anjing, “pake shampoo orang?” tanya saya keheranan. Anjing pun seperti manusia, ada yang suka mandi, ada yang ngga. Papa juga yang pernah beliin saya anak ayam untuk dipelihara, dengan lampu sebagai penghangat di malam hari, kandang yang mesti sering dibersihin, ayam negri pertama saya tumbuh sangat tambun dan berakhir di meja makan. Marmut, kelinci, burung dara, kura-kura, ikan semua pernah dia pelihara. Dia juga yang pertama kali tunjukkin ke saya cara bantu anjing melahirkan. Dulu saya pikir dia serba bisa, selain main biola dan melukis kuda. Belakangan saya tahu, dia gak terlalu pandai bercakap-cakap.

Papa juga suka renang. Dia yang pertama kali ajarin saya renang. Dulu kita sering pergi renang tiap ada kesempatan, di Pasundan, di Ciater, dan satu lagi saya lupa namanya, yang ada patung Zeus besar di tepi kolamnya. Dulu papa pernah naikin kita (saya dan kakak) ke pundak patung Zeus itu hanya untuk difoto dengan senyum terlebar. Papa bilang dulu dia pernah bercita-cita jadi atlet renang dan atlet badminton, entah beneran atau bercanda.

Papa juga suka musik klasik, waktu kecil Telinga saya terbiasa sama karya-karya mozart, walau kaset pertama yang saya beli adalah michael jackson’s “dangerous”, dia juga yang antar saya ke toko kasetnya waktu itu di bilangan Pasar Minggu.

Papa papa papa, waktu kecil saya dibilang orang anak papa, mirip papa, sifat mirip papa. Bahkan mama sayapun bilang saya anak papa. Sekarang dia udah tua dan banyak hal yang udah ga bisa dia lakukan, sehingga out of my desperation saya pernah mikir dengan cerobohnya: seandainya dia bisa ini, seandainya dia lebih cekatan, lebih ini lebih itu. Puncaknya sebulan yang lalu kira-kira, saat saya telepon ke rumah dan minta dia cari selembar surat penting dan dia kesulitan carinya, dia lupa saya tahu benar, walau dia gak akan pernah ngaku dia lupa. Dia sering lupa. Tapi itu wajar mestinya untuk usianya yang ke 75 (dan masih belum ubanan). Saya tersadar justru keterlaluan kalau saya pun lupa, lupa sama sosok anak kecil yang langkah kaki kanannya sengaja dihentak lebih keras tiap kotak bekal bunyi, anak perempuan yang bicara sama rumput putri malu, anak perempuan yang selalu cari papa pertama kali sampai di rumah sepulang dari sekolah. Lupa kalau papa yang ajarin saya semua hal itu, lupa sama kemungkinan, jika aja papa ga ajarin saya semua itu, saya akan jalan di atas rumput seenaknya menginjak tanaman putri malu dan gak pernah mengecap bahagianya renang sama papa, perasaan yang gak ada duanya.

Hari ini dia ulang tahun ke-76, resmi lebih dari 3/4 abad. masih dengan rambut tanpa uban, salah satu hal yang paling dia banggakan tentang diri dia.

Happy birthday, papa. From the deepest me.

paper tears.

ini ditulis buat seorang teman yang udah back for good ke indo. seorang teman, yang untuknya saya merasa perlu untuk menulis sebuah kisah, entah singkat atau agak panjang kita liat aja ntar. pokoknya nulis, karena kadang menulis itu artinya mengingat dan mengabadikan suatu kisah bukan cuma seperti yg saya ingat, tapi juga sebagaimana saya pengen mengingatnya.

call me a friend… and know that i am, and just try to think of the good times

that was the line of shelter belt’s lyrics in one of their songs. so thats what i’m gonna do now.

good times with meta?
rather hard not to have many.
saat2 kita masih tinggal bersebrangan blok di nolle, sore-sore yg spontan ketemu barang setengah jam menikmati segelas latte hangat di impala, obrolan-obrolan mulai dari uni sampai film, bahasa sampai penyangkalan diri meta bahwa dia adalah seorang vegetarian yg belum coming out. meta bisa ngobrol tentang apa aja, “meta pinter!” kata saya ratusan kali mungkin ada. semuanya good times.
saat2 saya kehabisan telur, dan meta muncul di pintu apartemen cuma buat nganterin telur (yep! i do remember that!). saat2 saya belajar mati2an dan meta muncul bawain peanut butter cookies. sejak itu cookies are supposed to be peanut butter cookies to me.
one thing about meta, i always know that she always feels comfortable being near me (tell me if i’m wrong met, promise i won’t be mad uhahaha), and that comforts me.

kita punya tempat janjian yang tidak spesial, di depan toko militer dgn manekinnya yg aneh itu tepat di Ecke (sudut jalan) dan hampir selalu berpisah di tempat yang sama atau tepat sebelum toko barang antik. saya yg pertama kali memperkenalkan dia sama novel Twilight, sama2 menggemarinya, getol bacain buku2 kelanjutannya, dan sama2 mencemooh Twilight sehabis menonton filmnya (honestly, some books just need to stay as books). cuma bedanya, dia lebih konsisten baca novel, sedangkan saya bisa berhenti begitu aja ketika baca new moon baru 1/4.

30 Agustus 2010.
meta pulang for good ke indo, dan waktu itu (untungnya) saya lagi ada di indo.

2 September 2010.
kita janjian ketemu di sebuah mall di kawasan jakarta barat buat makan joghurt yang kondang itu dan saya bersikeras mau nyobain ngafe di cafe di mana aja selain di cafe yg pernah runtuh atapnya padahal di dalam mall (WTH?)
ketika saya lagi mau buka bungkus sweetener berinitial T, meta bilang “hmm, itu kan mengandung aspartame”. “oh?” saya bilang dgn cueknya, dan tepat ketika bungkusnya saya robek, meta menyambung “dan itu yg bisa nyebabin kanker” -_- lalu saya gak jadi masukin gerombolan aspartame itu ke cangkir teh saya (ya, akhirnya malah ngeteh dan bukan ngopi). gantian saya ambil gula pasir biasa, berpikir kalau itu akan lebih aman buat kesehatan. dan tepat ketika saya robek bungkusnya, meta berkomentar lagi “dan itu yg nyebabin diabetes” -_-
lalu saya bilang, “jadi hidup itu cuma antara 2 pilihan, kanker atau diabetes ya?” lalu kita berdua ketawa. ketawa yg menurut saya ironis, ditutup dengan potongan kalimat yg familiar dari mulut meta, “gimana kabarnya mau ngurangin gula, nit?”. obrolan pun berlanjut ke berbagai arah, tentang rencana ke depan, tentang kenangan2 di belakang, mimpi2 di atas, sampai tentang anak ABG bilingual yg duduk di samping kita.

sore itu pun berlanjut tidak lama dan kita pun berpisah, tapi kali ini bukan di depan toko militer atau barang antik, dan bukan dengan “sampai besok”. meta pergi dengan mamanya, sementara saya jalan sendirian ke tempat parkir, dengan perasaan yg campur aduk. senang, lega, sekaligus sedih. sepanjang perjalanan cuaca mendung, dan begitu sampe rumah, hujan pun turun dengan derasnya.

tn

:D

well, saya percaya hidup ini lebih dari sekedar pilihan antara “sweetener” atau “gula pasir”. lebih daripada memilih antara “kanker” atau “diabetes”. ada yang lebih dari itu, walau kadang terlihat ngga seperti itu. pasti lebih dari cuma sedih karena berpisah medan berjuang. lebih dari sekedar jarak yang jauh. selalu ada yg lebih buat masing2 kita di 2 benua dan situasi yg berbeda. pasti lebih, sama kaya namanya. suatu kali saya pernah bilang ke dia di sela-sela gabbing session kita,

“lo mesti bersyukur krn nama lo bagus, ga kaya nama gue ga ada artinya gini padahal panjang kaya kereta. meta artinya lebih dari sekedar. meta mentari, lebih dari mentari”